Non prendere la vita troppo sul serio. Non riuscirai mai a uscirne vivo.

Digital Mapping Basic

1. Rektifikasi Citra

Rektifikasi berarti menyatakan sistem koordinat raster (unit piksel) citra/image ke sistem koordinat tanah/proyeksi (unit metrik) melalui transformasi titik-titik sekutu (Ground Control Points) yang terdefinisi dalam dua sistem tersebut. Pada kasus ini, sistem koordinat piksel akan ditransformasi ke sistem koordinat Geodetik (datum: WGS84) dan selanjutnya diproyeksikan ke sistem TM (Transverse Mercator) dengan sistem grid UTM (Universal Transverse Mercator) (datum: WGS84).

Input: Citra (*.jpg; *.jpeg), Koordinat Geodetik kiri-bawah dan kanan-atas (*.txt; *.xls)

Output: Citra (*.tif; *.tiff)

Prosedur standar:

  1. Jalankan Google Earth, melalui Tools > Options pilih Detail Area:Large (1024×1024); Show Lat/Long:Degrees, Minutes, Seconds. Aktifkan Compass, Status Bar, dan Grid (Long/Lat) melalui View > Compass, Status Bar, Grid. Non-aktifkan Terrain.
  2. Masukkan koordinat target pada panel Fly To (misal: 37 25’ 19.1”N, 122 05’ 06”W), klik Begin Search. Gunakan Zoom Out/In dan Pan hingga koordinat kiri-bawah dan kanan-atas mencakup area yang diinginkan atau sedikit lebih luas (sebagai safety factor). Klik tombol pendatar dan bearing Utara.
  3. Bila progress pada Status Bar telah mencapai 100%, non-aktifkan semua komponen view kecuali Grid. Simpan citra tersebut melalui File > Save > Save Image (_Grid). Dengan view yang sama, non-aktifkan semua komponennya (menjadi citra tanpa Grid), kemudian simpan dengan nama berbeda (_Image).
  4. Jalankan Global Mapper, melalui File > Open Data File(s) buka file citra ber-grid (_Grid) yang disimpan. Akan muncul dialog konfirmasi, klik Yes. Pada window Image Rectifier, klik tombol Select Projection dan pastikan Ground Control Point (GCP) Projection adalah Geographic (Latitude/Longitude) / WGS84 / arc degrees. Aktifkan transformasi Affine melalui Options > Rectification Method > Affine (3+ GCPs).
  5. Akan digunakan 4 (empat) titik GCP berupa perpotongan garis lintang-bujur di perimeter area. Pada view Entire Image, Zoom lokasi titik GCP, kemudian pada Zoomed View klik titik GCP yang akan digunakan. Pada panel Ground Control Point (GCP) Entry akan muncul nilai PixelX dan PixelY, kemudian isikan nilai X/Easting/Lon dan Y/Northing/Lat sesuai Bujur dan Lintang titik tersebut dalam format deg min’ sec”(N/S/E/W) ataupun desimalnya.
  6. Setelah keempat titik terisi, muncul nilai Error masing-masing titik. Perkecil Error dengan memilih tiap baris titik (dimulai dari Error terbesar), klik titik yang dianggap lebih tepat pada Zoomed View, kemudian klik Update Selected GCP. Begitu seterusnya hingga setiap Error berada di bawah 0.1 (atau spek teknis lainnya).
  7. Simpan file GCP melalui File > Save Control Points to a File. OK pada window Image Rectifier dan citra (_Grid) terektifikasi muncul pada view Global Mapper dalam sistem koordinat Geodetik.
  8. Untuk citra tanpa Grid (_Image), lakukan langkah 4-5, kemudian load file GCP (*.gcp) tadi melalui File > Load Control Points from a File. OK dan citra (_Image) terektifikasi muncul pada view Global Mapper dalam sistem koordinat Geodetik.
  9. Proyeksikan ke sistem TM dengan sistem grid UTM melalui Tools > Configure > Projection, pilih Projection:UTM; Zone:(sesuai zona dan hemisfer area); Datum:WGS84; dan Planar Units:METERS.
  10. Ekspor citra melalui File > Export Raster and Elevation Data > Export Geo TIFF. Pilih File Type: 24-bit RGB (Full Color, Large Storage Required). Aktifkan Always Generate Square Pixels dan Interpolate to Fill Small Gaps in Data. Pada tab Export Bounds, isikan batas citra (yang ditargetkan) di Lat/Lon (Degrees), Global Projection (UTM–meters), ataupun lainnya, OK, simpan citra (file *.tif/*.tiff) tersebut.

2. DTM dan Kontur

Pembuatan DTM (Digital Terrain Model) bertujuan memperoleh gambaran topografi melalui sebaran primitif face (misal: persegi dan segitiga), sedangkan kontur melalui isoline ketinggian. Pada kasus ini, data pengukuran muka tanah (satuan metrik) dengan interval grid tertentu akan disajikan dalam bentuk DTM dan kontur.

Input: Tabular XYZ/ENZ (*.txt; *.xyz)

Output: Plot Vektor (*.dwg)

2.1 DTM

Prosedur standar:

  1. Jalankan AutoCAD LDD, buat file baru melalui File > New. Isikan nama file baru pada panel Drawing Name-Name:[nama file]. Buat basis project baru melalui Create Project, kemudian pilih Initial Settings for New Drawings-Prototype:Default (Meters), isikan Project Information-Name:[nama project]. Gunakan default saat pengisian properti Create Point Database dan Load Settings.
  1. Pastikan satuan metrik melalui Format > Units, pilih Meters pada Units to scale drag and drop content. Ketik “mp” pada Command Line, spasi/ENTER, kemudian pilih Civil Design 2i, klik Load.
  2. Pada Terrain > Terrain Model Explorer, klik kanan di direktori Terrain dan Create New Surface. Di dropdown TIN Data klik kanan Point Files-Add Point File. Pilih Format:ENZ(comma delimited) dan buka Source File:[file yang disimpan]. Klik kanan Surface1, pilih Build. Pada Surface data options aktifkan hanya Use point file data, OK.
  3. Masih pada Surface1, klik kanan pilih Surface Display > 3D Faces atau melalui Terrain > Surface Display > 3D Faces. Pada Surface Display Settings, aktifkan Create skirts kemudian OK, spasi/ENTER, ketik “z”-spasi/ENTER, ketik “e”-spasi/ENTER.

2.2 Kontur

Prosedur standar:

  1. Pilih Terrain > Create Contours, isikan Minor dan Major interval. Minor interval standar umumnya sebesar bilangan skala dibagi 2000. Klik Style Manager >>, pada Contour Appearance pilih Smoothing Options-Add Vertices-Increase 10, OK.
  2. Pilih surface pembuat DTM/kontur yang akan dipakai, Terrain > Set Current Surface, klik Terrain Surface, OK.

3. Profil dan Volume

Pembuatan profil bertujuan menggambarkan kedudukan vertikal relatif titik-titik pengamatan dan titik-titik objek yang diamati terhadap datum vertikalnya, sepanjang garis pengukuran (memanjang) ataupun tegak lurus garis tersebut (melintang). Penghitungan volume bertujuan mengetahui volume deposit material pada suatu situs/lokasi, yang nantinya dapat pula mengestimasi volume galian (cut) dan timbunan (fill). Pada kasus ini, akan dibuat profil memanjang dan melintang dari satu garis alinyemen serta akan dihitung volume dari suatu situs/lokasi pada DTM yang ada.

Input: Plot Vektor (*.dwg)

Output: Plot Vektor (*.dwg) dan file teks (*.txt)

3.1 Profil Melintang (Cross Section)

Prosedur standar:

  1. Buat polyline di dalam area DTM/kontur, kemudian klik Alignments > Define from Polyline dan pilih (Select) polyline tersebut. Pada Command Line: “Select reference point (Enter for start):”, spasi/ENTER. Isikan nama alinyemen di Alignment Name dan deskripsinya di Description, OK. Buat offset garis tersebut melalui Alignments > Create Offsets. Aktifkan lapisan offset yang diperlukan, OK.
  2. Berikan label pada setiap titik stasiun profil melintang dengan interval jarak tertentu sepanjang alinyemen melalui Alignments > Station Label Settings, isikan interval jarak antar label pada Station label increment dan interval jarak antar titik stasiun pada Station tick increment, OK.
  3. Pilih Alignments > Create Station Labels, “Beginning station <……>:” spasi/ENTER, “Ending station <……>:” spasi/ENTER, “Delete existing stationing layers [Yes/No] <Yes>:” spasi/ENTER. Bila diperlukan, edit lengkungan (spiral) jalan melalui Alignments > Edit.
  1. Pilih surface yang digunakan, Cross Section > Surfaces > Set Current Surface. Setting profil melintang (cross section) melalui Cross Section > Existing Ground > Sample from Surface.
  2. Plot semua profil melintang di seluruh stasiun melalui Cross Section > Section Plot > All, “Beginning station <……>:” spasi/ENTER, “Ending station <……>:” spasi/ENTER, “Sheet origin point:” (klik titik penempatan hasil plot). Bila belum sesuai, Cross Section > Section Plot > Settings, atur layout penempatannya.

3.2 Profil Memanjang (Longitudinal Section)

  1. Pada Profiles > Profile Settings > Sampling, atur offset kiri-kanan alinyemen sampel profil. Kemudian, atur pula … > EG Layers, FG Layers, Labels and Prefix, dan Values (diutamakan sesuai default-nya).
  2. Seperti sebelumnya, pilih surface pembuat DTM/kontur yang akan dipakai, Profiles > Surfaces > Set Current Surface, klik Terrain Surface, OK. Bila digunakan hanya satu surface maka klik …> Toggle Multiple Surfaces (hingga muncul “Multiple surfaces are off”) untuk memastikan penggunaan dua atau lebih surface adalah non-aktif.
  3. Pilih Profiles > Existing Ground > Sample from Surface, isikan offset kiri-kanan alinyemen beserta toleransinya. “Beginning station <……>:” spasi/ENTER, “Ending station <……>:” spasi/ENTER.
  4. Melalui Profiles > Create Profile > Full Profile, buat profil memanjang dengan pengaturan (spasi horisontal dan vertikal, grid vertikal, dll) pada window Profile Generator, OK, “Select starting point:” klik titik penempatan hasil plot, “Delete existing profile layers [Yes/No] <Yes>:” spasi/ENTER.

3.3 Volume

Prosedur standar:

  1. Buat stratum (ruang volumetrik) dengan meng-copy  Surface1 menjadi Surface2 yang kedudukannya ditranslasi dalam arah sumbu-z terhadap Surface1. Pada Terrain > Terrain Model Explorer, pilih Surface1, klik kanan Copy, ubah nama surface baru menjadi Surface1b. Melalui Terrain > Edit Surface > Raise/Lower Surface, “Save modified surface as New surface (Yes/No) <Yes>:” spasi/ENTER, isikan nama baru: Surface2, OK. Muncul “Add to each elevation:” [besar translasi vertikal yang diinginkan], spasi/ENTER. Pilih stratum volume melalui Terrain > Select Current Stratum, klik New, Select Surface1 dan Select Surface2, beri nama, OK, pilih stratum tersebut, OK.
  2. Definisikan batas situs/lokasi yang akan dihitung volumenya melalui Terrain > Site Definition > Define Site, “Rotation angle <0d0’0”>:” bila sisi-sisinya sejajar sumbu-x/y spasi/ENTER, “Site Base Point:” klik titik sebagai pojok kiri-bawah situs/lokasi, “Grid M size:” [panjang grid kalkulasi volume], “Grid N size:” [lebar grid kalkulasi volume], “Upper right corner:” (klik titik sebagai pojok kanan-atas situs/lokasi), “Change the size or rotation of the grid/grid squares (Yes/No) <No>:” spasi/ENTER, “Erase old site outline (Yes/No) <Yes>:” spasi/ENTER, “Site name:” [nama situs/lokasi].
  3. Hitung volume dengan metode Grid melalui Terrain > Grid Volumes > Calculate Total Site Volume. Pilih nama situs/lokasi tadi, OK, atur Grid Volume Settings, OK. Muncul dialog “Use a different surface?”, klik Yes, isikan nama surface di New Surface:, OK. Hasil penghitungan volume tertera di Command Line.
  4. Hitung volume dengan metode Composite melalui Terrain > Composite Volumes > Calculate Total Site Volume. Pilih nama situs/lokasi tadi, OK, atur Composite Volume Settings, OK. Isikan nama surface di New Surface:, OK. Hasil penghitungan volume tertera di Command Line.
  5. Hitung volume dengan metode Section terlebih dahulu melalui Terrain > Section Volumes > Sample Sections, pilih nama situs/lokasi tadi, OK, atur Section Volume Settings, OK. Kemudian, melalui Terrain > Section Volumes > Calculate Volume Total, pilih nama situs/lokasi tadi, OK, atur Section Volume Settings, OK. Hasil penghitungan volume tertera di Command Line.
  6. Sebagai tambahan, tampilkan laporan penghitungan volume melalui Terrain > Volume Reports > Site Report, pilih nama situs/lokasi tadi, OK, atur Site Volume Corrections, OK. Pada window Site Volumes tertera hasil penghitungan, klik Print To File untuk menyimpan dalam format *.txt. Atau dapat pula dimasukkan ke dalam drawing melalui Terrain > Volume Reports > Site Table, pilih nama situs/lokasi tadi, OK, atur Site Volume Corrections, OK, “Text insertion point:” (klik titik pada drawing untuk meletakkan objek tabel), “Rotation angle <0d0’0”>:” spasi/ENTER.
  7. Bila diperlukan, buat satu profil situs/lokasi melalui Terrain > Section Volumes > Plot Single, pilih nama situs/lokasi tadi, OK, “Station: <0.00>:” [jarak titik stasiun sepanjang sumbu-M], “Pick bottom insertion point:” (klik titik pada drawing untuk meletakkan objek profil). Dapat pula dibuat keseluruhan profil melalui Terrain > Section Volumes > Plot All, pilih nama situs/lokasi tadi, OK, “Sheet origin point <0.0>:” (klik titik pada drawing untuk meletakkan objek profil).

4. Overlay DTM-Citra

Pertampalan DTM-Citra bertujuan memberikan visualisasi topografi bagi sebagian atau keseluruhan area pada citra. Pada kasus ini, perimeter citra terektifikasi dan DTM telah terdefinisi pada koordinat yang sama dalam sistem koordinat proyeksi TM dan sistem grid UTM (datum: WGS84).

Input: Tabular XYZ/ENZ (*.txt; *.xyz) dan Citra (*.tif; *.tiff)

Output: Peta citra 2D dan 3D (*.srf)

Prosedur standar:

  1. Jalankan Surfer, konversi file tabular XYZ/ENZ ke bentuk grid (*.grd) melalui Grid > Data, pilih Files of Type: All Files (*.*) untuk membaca format *.xyz, klik Open, aktifkan semua delimiter, lihat pada preview-nya dan pastikan setiap komponen XYZ berada pada kolom terpisah, OK. Pada panel Grid Data, pilih metode interpolasi melalui Gridding Method, aktifkan Grid Report, OK. Simpan Surfer – Report1 melalui File > Save, kemudian minimize.
  2. Buat surface dari file Grid tadi melalui Map > Surface, pilih file Grid, OK. Masukkan citra melalui Map > Base Map, pilih citra *.tif/*.tiff dari materi sebelumnya, OK, biarkan Image number:1, OK. Biarkan ukuran surface dan citra seperti apa adanya.
  3. Klik ganda pada citra, pada tab Base Map isikan Image Coordinates sesuai Limits surface di Map: 3D Surface Properties dengan meng-copy-paste diikuti klik Apply, dimulai dari xMax dan yMax, kemudian xMin dan yMin. Seringkali setelah xMax diisikan, citra berimpit dengan sumbu-x. Untuk masuk kembali ke Map: Base Properties klik kanan pada Base di Object Manager dan pilih Properties, kemudian lanjutkan paste koordinat dari Map: 3D Surface Properties.
  4. Cara yang lebih mudah dengan meng-copy-paste dari Report yang di-minimize tadi. Pada bagian Grid Geometry terdapat batas X Minimum (xMin), X Maximum (xMax), Y Minimum (yMin), dan Y Maximum (yMax) dengan nilai yang tentu sama dengan Limits surface yang dimaksud. Setelah selesai, klik Apply untuk melihat hasilnya, OK.
  5. Pilih kedua objek (citra dan surface), overlay keduanya melalui Map > Overlay Maps. Klik ganda hasil pertampalan, pada tab Overlays aktifkan Use overlay color only. Pada tab Scale, isikan skala X, Y, dan Z sama besar. Bila diperlukan perbesaran vertikal maka dapat digunakan rasio lain, misal: skala X:Y:Z = 1:1:10.

Untuk penyajian 2 dimensi, pada gambar gunakan satuan centimeter untuk mempermudah penyekalaan, melalui File > Preferences > Drawing, pilih Page Units: Centimeters, OK. Klik ganda kembali surface, pada tab View aktifkan Projection: Orthographic, geser scroll Tilt menjadi 90o dan Rotation menjadi 0o. Pada tab Scale isikan skala penyajian yang diinginkan. Map units dalam hal ini adalah meter.

Songkhla adalah ibukota sebuah provinsi dengan nama yang sama di 744km sebelah selatan kota Bangkok atau 25km sebelah timur laut kota Hat Yai. Dari bandara Suvarnabhumi rute penerbangan sepanjang 380nm melintas di atas Teluk Thailand menuju bandara Hat Yai. Selanjutnya, dari kota Hat Yai jalur darat dapat ditempuh selama 50 menit.

Perjalanan dinas kali ini mengantarkan saya transit di kota bersahaja ini. Saya bermalam di sebuah hotel kecil. Mereka menamakannya Sook Som Boon 2. Hotel ini sangat pas dengan kocek backpacker seperti saya. Hanya dengan 400Baht (sekitar 120 ribu rupiah) per malam, fasilitas yang kita dapatkan cukup lengkap. Suasana yang tenang dan nyaman membuat kita betah berlama-lama di sini.

Keesokan paginya, jadwal keberangkatan ke offshore ditunda dan saya punya kesempatan seharian berada di kota ini. Saya putuskan untuk melangkahkan kaki dan sejenak berkeliling. Harmoni kota yang menjelma dalam aneka warna begitu memanjakan pandangan saya. Sebelum pukul 7 pagi, terlihat orang-orang sudah mengawali rutinitas mereka. Para pedagang sibuk membuka tokonya, para pelajar berseragam putih biru menyeberang jalan dengan tertib, polisi lalu lintas berpatroli dengan motor bebek, dan masyarakat lainnya membangunkan kota ini.

Kesan yang begitu membekas adalah perihal kebersihannya. Masyarakat di sini begitu terbiasa menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan mereka. Jaringan infrastruktur kotayang terpelihara berfungsi optimal sebagai urat nadinya. Jalan-jalan besar didukung dengan saluran air di sampingnya dengan kondisi sangat baik. Meskipun hujan deras mengguyur, masyarakat tidak perlu khawatir akan air yang menggenang. Tidak diragukan lagi, pemerintah setempat dan masyarakatnya telah sukses menanamkan budaya bersih dari generasi ke generasi.

Di dekat hotel ini, berdiri sebuah pondok tua yang masih sangat asri. Ternyata bangunan ini memiliki nilai historis yang penting, yaitu sebagai tempat kelahiran perdana menteri Thailand ke-46. Di sebelahnya terdapat Tourist Services Center dimana kita bisa menggali informasi lebih dalam tentang tempat-tempat wisata di Songkhla.

Tidak lama, saya kembali ke hotel dan duduk di ruang tamu. Saya melihat kumpulan sepeda diparkir di sana. Dan saya diberi tahu pemilik hotel bahwa mereka memang menyewakannya. Tanpa basa-basi lagi, saya langsung menyambar satu sepeda kecil berkeranjang. Sepeda tersebut saya sewa dengan biaya 30Baht (sekitar 9 ribu rupiah). Pemiliknya mengijinkan saya untuk memakainya selama 3 jam. Dari jalan yang lengang saya meluncur ke keramaian dan coba menyatu dalam kesibukan kota ini. Kembali saya mendapati suasana penuh keteraturan di setiap mata memandang.

Sepeda itu saya kayuh lebih kencang ke wilayah utara. Terdapat beberapa landmark yang saya lewati di sepanjang perjalanan menuju wilayah pesisir. Seni arsitektur beserta kaligrafi sanskrit-nya sangat berkarakter dan menciptakan kesan tak terpisahkan dari jati diri bangsa. Simbol-simbol negara kerajaan ini bertaburan di mana-mana dan merefleksikan kecintaan masyarakatnya.

Sesampainya di wilayah pantai, saya berhenti sejenak menikmati pemandangan. Laut begitu tenang dan pepohonan berbaris rapi di sepanjang pantai. Masyarakat sering menghabiskan akhir pekan bersama keluarga di sini. Dengan area luas yang sejuk dan rindang ini, acara piknik pasti akan sangat menyenangkan.

Setelah hampir dua jam berkeliling, saya langsung kembali ke hotel. Di sana teman-teman dari perusahaan lain juga tengah siap dengan makan siang. Sawadeekap Songkhla.

This slideshow requires JavaScript.

Mendaki gunung merupakan aktifitas yang sangat positif dan menyenangkan. Di dalamnya kita berkesempatan untuk merasakan harmonisasi alam liar sebagai refleksi rasa syukur kita atas anugerah Sang Pencipta. Gunung tinggi dan lingkungan alami di sekitarnya sering menyisakan kerinduan yang dalam. Di sela-sela upaya kita menempuh kerasnya medan pendakian ada pesona alam yang sangat menakjubkan. Puncak ketinggian selalu menantang siapa saja yang ingin menaklukkannya.

Proses ini mengutamakan kemampuan jasmani dan rohani yang sehat karena keselamatan selalu menjadi nomor satu. Untuk memperkecil resiko cidera dan kecelakaan, kegiatan ini tentu memerlukan persiapan matang, baik secara individu maupun kolektif yang mencakup fisik, mental, dan material (peralatan, perlengkapan, dan perbekalan). Persiapan administrasi yang mencakup perijinan juga kerap diperlukan pada wilayah pendakian cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah.

Kali ini, Gunung Burangrang adalah target pendakian kami. Gunung ini sesuai untuk tingkat pemula karena memiliki jalur tempuh yang mudah, syarat peralatan yang minim, dan waktu pendakian yang singkat. Pada hari Minggu, tanggal 8 April 2012, pukul 11:00 WIB kami (saya, Khairurizki, Eko, Putra, dan Tobias) tiba di gerbang Markas Koramil, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, setelah satu jam perjalanan dari wilayah Bandung selatan menggunakan kendaraan pribadi. Dari gerbang ini kami bertolak ke pos awal pendakian menggunakan ojek motor dengan biaya 10 ribu rupiah per orang. Jalan yang kami lewati cukup bagus dan bisa ditempuh hanya dalam waktu 12 menit. Perjalanan tersebut melintasi pemukiman dengan penduduk sekitar yang sudah terbiasa dengan para pendatang.

Pos awal pendakian ini berada di kawasan perkampungan penduduk tepat di sebelah selatan Burangrang dimana satu shelter kecil terdapat di depannya. Tak lupa masing-masing kami mengawali pendakian dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu untuk menghindari kram. Pemanasan tersebut meliputi otot-otot bahu, punggung, dan pinggang. Kemudian, kami memeriksa ulang barang bawaan di tas ransel. Untuk perlengkapan standar, kami membawa senter, GPS, baterai cadangan, korek api, pisau lipat, pakaian ganti, dan ponco. Untuk perbekalan, kami juga membawa obat-obatan, roti, dan minuman ringan.

Selanjutnya, kami memulai pendakian dari ketinggian 1241 mdpl pada titik awal. Kami mulai melintasi savana yang menghampar di atas bukit kecil. Perjalanan di sini tergolong ringan dengan medan yang landai. Jauh di hadapan kami, pegunungan Burangrang yang hijau bersemayam di balik selimut kabut.

Udara dingin yang berhembus dan melewati celah-celah pepohonan terasa menyegarkan. Namun peluh yang tak tertahankan mulai membercak di baju. Rintik hujan pun perlahan menyertai. Setelah 17 menit perjalanan melintasi padang rumput dan pepohonan, keindahan puncak gunung ini kian tersibak. Sambil beristirahat sejenak, kami bisa menikmati pemandangan utara wilayah Parongpong dan pematang ladang milik penduduk. Keelokannya tetap terpancar meski langit sedikit muram.

Ada jalan setapak yang mengantarkan kami masuk ke dalam kawasan hutan dengan kumpulan pepohonan yang renggang. Diantaranya terdapat tumbuh-tumbuhan paku liar. Di sinilah kami mulai mendaki tepian yang cukup terjal. Jalur ini biasa dilintasi pendaki atau penduduk lokal untuk mencapai puncak Burangrang. Lapisan tanah sudah membentuk unggakan-unggakan kecil karena sering dipakai sebagai tempat berpijak. Meskipun demikian, kami juga perlu berhati-hati karena lingkungan yang lembab membuat permukaannya basah dan licin. Dedaunan dan sampah-sampah alami lainnya menghiasi dasar kawasan ini.

Sepanjang perjalanan, udara yang begitu dingin berpadu dengan keringat yang meleleh di pelipis. Rintik hujan tertahan di daun-daun dan dahan pepohonan sekitar jalur. Masing-masing kami melewati pijakan demi pijakan dengan ekstra hati-hati karena permukaan tanahnya terasa liat dan licin. Di sini, setiap orang bisa mengambil langkah dan sikap badan yang berbeda ketika melewatinya. Tahap tersebut bisa dilakukan dengan berpegangan pada batang atau akar pepohonan yang kokoh ataupun mencengkram permukaan tanah dan bebatuan di sekitar. Berikutnya, kami berpijak pada unggakan yang tidak terlalu licin dan bertolak ke atas. Ketika berpegangan, kami pun harus waspada terhadap duri ataupun binatang liar yang terdapat di permukaannya. Apabila ragu dalam melewati suatu jalur yang terlampau sulit, kami memilih untuk menepi ke pinggiran jalur dimana vegetasi tumbuh lebih banyak. Beberapa kali kami juga menjumpai jalur yang terbentuk seperti parit dengan batang-batang pohon rebah di atasnya. Kami pun bergerilya disana.

Setelah hampir 30 menit mendaki, kami menjumpai area kecil yang nampaknya sering dipakai pendaki untuk beristirahat. Kami berhenti sejenak untuk minum dan mengumpulkan tenaga. Di sini kami berpapasan dengan penduduk lokal yang akan menggelincirkan kayu gelondongan melewati jalur yang sama. Nampaknya jalur-jalur yang berbentuk seperti parit yang kami jumpai memang sengaja dijadikan prasarana untuk aktifitas ini.

Menurut Putra setidaknya kurang dari dua jam lagi kami akan sampai di puncak. Tak lama kemudian, kami juga berjumpa lagi dengan beberapa penduduk lokal. “Sakedap deui, kang!”, kata mereka sambil mengarahkan telunjuknya ke arah puncak. Kami pun semakin antusias mendaki. Pendakian ini menyatu dengan jalur licin yang berundak-undak di tengah rimbunnya vegetasi. Kelelahan menjadi sesuatu yang tidak bisa kami hindari ketika melakukan gerakan memanjat berulangkali. Namun dengan mengatur ritme pernapasan, kami bisa mempertahankan energi lebih lama.

Setelah melintasi celah pepohonan dan semak-semak dengan udara dingin yang amat menusuk, akhirnya pada pukul 13:50 WIB kami tiba di Puncak Burangrang. Puncak ini berakhir di ketinggian 2064 mdpl dengan sebuah monumen tua di atasnya. Selain itu, di sana telah ada sekelompok mahasiswa pecinta alam yang sedang berkemah. Mereka memulai pendakian sejak pagi dan merencanakan akan turun malam hari. Kami pun memperkenalkan diri dan bergabung dalam perbincangan mereka. Rasa lelah sirna ketika kami bersantai dan menghabiskan sebagian bekal sambil menikmati pemandangan ke arah wilayah Parongpong yang samar-samar di balik kabut.

Monumen yang masih berdiri kokoh di puncak Burangrang sepertinya dipergunakan oleh jawatan topografi di masa lalu sebagai benchmark titik Triangulasi. Tertulis “P220 2064” di sisi depan bagian atas. Mengingat fungsi dan aspek historisnya, bangunan penting ini seharusnya dipelihara. Sayangnya, hal itu tampak tidak terlaksana. Tangan-tangan jahil dengan leluasa merusaknya.

Setelah puas berada di ketinggian ini, kami mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk turun. Jalur pendakian berada di sisi Selatan, sedangkan jalur turun berada di sisi Timur. Jalur ini akan sedikit lebih landai dan memiliki jarak yang lebih jauh daripada jalur pendakian. Waktu menunjukkan pukul 14:37 WIB. Kami bergegas memasuki jalur turun.

Di sepanjang tepian gunung, kabut tebal bergumul dan mengisi celah-celah pepohonan. Temperatur udara saat itu berkisar antara 12-14o C. Setelah enam menit berjalan, kami menjumpai turunan berbentuk tebing curam dengan tanah yang cukup licin di dindingnya. Meskipun demikian, di salah satu sisinya telah terdapat seutas tali yang terikat di sebuah batang pohon. Tali tersebut cukup kuat untuk menahan kami turun satu persatu. Pijakan-pijakannya juga cukup aman apabila dilalui dengan perlahan dan sikap badan yang tepat. Untuk berjaga-jaga, Khairurizki telah menyiapkan tali webbing.

Karakteristik lingkungan jalur turun ini juga mirip dengan apa yang kami jumpai di sepanjang jalur pendakian. Namun jalur pulang ini memiliki kombinasi tanjakan dan turunan yang lebih bervariasi. Setelah 740 m perjalanan dari puncak Burangrang, kami melintasi Puncak Meong di ketinggian 2042 mdpl.

Tampaknya melihat ke bawah lebih sulit daripada melihat ke atas. Begitupun langkah kaki kami harus menyusuri turunan licin secara perlahan. Di sini, batang dan ranting pepohonan yang menonjol tidak selalu berbahaya karena juga bisa berguna. Kami sedapat mungkin berpijak pada permukaan tanah yang agak gembur dan dipenuhi dedaunan ataupun akar-akar pohon.

Beberapa menit kemudian, kami melintasi kawasan pepohonan dengan celah-celah yang cukup lebar, hanya saja kabut masih mengelilingi pandangan kami. Pemandangan di kiri dan kanan jalur terlihat samar. Dalam setiap turunan, kami berusaha menepi ke sisi yang lebih aman dengan sikap badan yang tepat. Terkadang menyusurinya dengan posisi terduduk menjadi satu-satunya pilihan. Kami harus rela terseok di tanah basah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16:02 WIB. Di penghujung jalan turun, kami memasuki kawasan hutan pinus. Wangi pinus yang segar terhirup bersama udara yang begitu dingin. Hutan ini berujung pada areal rerumputan luas dan sebuah Pos Lapor Kopassus. Seorang petugas yang tengah berjaga memberi salam ketika kami melewati portal pos ini. Berikutnya, jalan menurun berlapis kerikil kami lewati tanpa hambatan. Air hujan mengalir di celah-celahnya. Tak lama, kami menjumpai sebuah warung kecil. Di sini kami bisa mengisi perut yang kosong dan menghangatkan tubuh yang masih menggigil. Setelah singgah dan beristirahat selama 10 menit, kami melakukan dokumentasi terakhir sesaat sebelum baterai cadangan handphone benar-benar habis.

Selanjutnya, kami menyusuri jalan yang membelah pemukiman dan lahan penduduk Situ Lembang. Di pinggir jalan kami juga mendapati sebuah pancuran dengan sumber air yang jernih. Dalam kedinginan, segera kami manfaatkan kesempatan untuk sedikit membersihkan diri. Setelah 15 menit berjalan, kami tiba di pinggir tikungan jalan raya. Tempat ini umum dikenal sebagai Gerbang Komando dan juga pos keluar pendakian, yang ditandai dengan sebuah shelter bercat kuning dengan bangku panjang di dalamnya. Karena waktu sudah mendekati maghrib dan angkutan kota mulai jarang melintas, kami putuskan untuk berjalan kaki menuju terminal “bayangan”. Di sinilah kami menyewa satu angkutan kota untuk turun di terminal berikutnya. Sang supir sepakat dengan biaya sewa sebesar 30 ribu rupiah. Dari terminal ini angkutan kota mengantarkan kami ke Terminal Ledeng. Ketika tiba, waktu menunjukkan pukul 19:25 WIB dan kami berlima langsung beranjak pulang.

Sebagai manusia, kita terlebih dahulu telah sukses bahkan sebelum kita lahir. Dan kesuksesan akan seterusnya menjadi fitrah kita. Kita begitu berbeda, tetapi kita punya peluang yang sama soal kesuksesan. Sukses berkarir, sukses berumah tangga, sukses berwirausaha, dan sukses di semua lini kehidupan. Kesuksesan tidak diberikan tetapi dicapai. Dia akan diraih oleh siapa saja yang benar-benar menginginkannya.

Kesuksesan ternyata bukan sekedar keberhasilan. Kesuksesan selalu mengakar pada hakikat eksistensi manusia: asas kebaikan. Hasil yang baik hanya akan diperoleh dengan cara yang baik. Kesuksesan adalah imbalan yang layak atas cucuran keringat dan segenap perasaan Anda melalui serangkaian proses terbaik yang Anda bisa. Oleh karena itu, kesuksesan menjadi pengalaman spiritual, bukan sekedar wujud material.

Saat ini, kita bersama dua milyar penduduk Bumi mungkin sedang berjuang di jalan panjang menuju suatu kesuksesan. Siapapun Anda, apapun keinginan Anda, bagaimanapun kondisi Anda, kita semua berada di fase yang sama dan kita tidak sendiri. Kesuksesan memang tidak bisa dipisahkan dari proses yang sulit berikut segala kepahitannya. Lantas bagaimanakah kita bertahan di tengah masa-masa yang tidak mengenakkan ini?

Satu-satunya cara adalah dengan menikmatinya. Hargailah diri dan jerih payah Anda dengan mencintai apa yang Anda lakukan. Hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan dengan perasaan frustasi Anda. Buatlah semua hal sulit itu menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Kecintaan terhadap apapun yang Anda kerjakan akan membuat produktifitas Anda berlipat ganda. Pacu kekuatan pikiran Anda dengan menghayati keinginan Anda setiap hari dan kapanpun Anda memerlukannya.

Selamat sukses!

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.